Gastronomic Experience a.k.a Oeroesan Peroet

Mangan ora mangan sing penting kumpul. Hmm! Bagi saya sepertinya lebih menarik kalau kumpul ora kumpul sing penting mangan. Kalo mangan pasti kan juga kumpul. Nah loh, pusing dech. Hehehe. Memang yang namanya makanan ga lepas dari hidup manusia. Ada yang bilang makan itu untuk hidup, atau bisa juga dibalik, hidup itu untuk makan (tapi saya cenderung pilih yang kedua). Dengan makan yang enak-enak tentu secara psikologis bikin kita lebih bahagia. Lihat saja, kalau ada makan-makan, apalagi makan gratis, mana pernah sambil sedih, pasti sesudahnya ketawa ketiwi. Malahan kalau tidak jadi makan enak bisa membuat hati sedih sampai nangis tersedu-sedu (lebay), seperti waktu ke kota udang beberapa tahun lalu, karena tkp nasi jamblang yang sudah diidam-idamkan ternyata tidak buka hari itu akibat hari raya Idul Adha.

Memang di dunia ini, yang namanya jenis makanan pasti berpuluh-puluh juta jenisnya. Kalau bisa mencicipi semuanya pasti seru. Teman baru saya yang berasal dari India pun bercerita, di negaranya, setiap berganti daerah dari utara ke selatan, barat ke timur (mungkin kalau di Indonesia disebut propinsi), kebudayaannya berbeda, bahasa yang digunakan juga beda-beda, bahkan jenis masakan & bumbu masaknya pun berbeda. Seperti di India Utara sering makan roti bundar (paratha), kebab, kambing & domba.  Seperti halnya masakan Pakistan, karena keduanya memiliki budaya yang sama. Beda lagi di India Selatan, yang banyak menggunakan minyak kelapa, asam jawa & lebih sering makan nasi .  Mungkin sama halnya seperti di negara kita ini. Setiap daerah memiliki ciri khas sendiri-sendiri. Sebut saja di daerah Sumatera banyak yang pedas-pedas dan sangat sering memakai santan dan kari. Di Jawa banyak pemakaian kecap manis, sehingga sering meledek orang Jawa sukanya manis-manis (bukan sara, tapi kenyataan dan contohnya banyak seperti teman saya, Indri yang fans berat kecap dan gula. Hehehe). Atau di Sulawesi yang bumbu masaknya juga medon dan pedas.

Dengan beragamnya jenis masakan di Indonesia, sampai punya cita-cita ingin sekali menjelajah semua wilayah Indonesia (kalau perlu dari sabang sampai Merauke), tentu sambil wisatangunyah.  Bagi saya kesenangan secara jasmani saat ini adalah travelling dan makan. Kemana pun travelling pasti selalu diusahakan (sebenarnya harus, dan menjadi kewajiban) untuk mencoba makanan khas daerah setempat. Dan biasanya sebelum berangkat, saya pasti mengumpulkan sebanyak-banyaknya review tempat makanan khas dimana saja dan apa saja, baik itu yang terkenal, maupun yang mblusuk-mblusuk. Bahkan kadang sering yang punya daerah sendiri tidak tahu adanya tempat makan yang saya tuju.

Contohnya waktu trip jalan-jalan ke Solo kemarin, sudah dicanangkan sebagai trip lemunisasi  (kenapa lemu? Coba ditanyakan saja kepada komandan kompi). Yang sehari bertarget  minimal enam kali nangkring di warung makan. Mau makan berat, ringan, sedang, yang penting ngunyah dan menikmati makanan lokal. Sampai kenal dengan pemilik warung bahkan foto bersama, karena ketagihan njogrok di sana. Dan memang paling enak jalan sama teman-teman jalan yang mempunyai misi yang sama dan tidak rewel terhadap makanan. Dan demi tidak lupa terhadap bentuk makanannya, pasti melakukan ritual foto-foto makanan dari berbagai angle dulu sebelum dilahap habis (yang ada makanan sering jadi dingin, tapi tetap saja habis dimakan.Hehehe).

Sepertinya kegiatan memamah biak ini  berawal dari kecil. Waktu sd saya punya geng, namanya geng baso, karena hampir setiap hari kalau bel istirahat berbunyi, pasti kami se-geng langsung lari dulu-duluan sampai di tempat jualan baso. Dan mulai berkembang sejak masa kuliah. Karena hidup sendiri alias jadi anak kos, mau tidak mau harus explore makanan sendiri. Jadilah semua makanan baik di sekitar kampus atau sekitaran kota Bandung jadi jajahan saya. Mulai dari lumpia basah, tahu gejrot, makanan sunda dekat kos sampai café di dago dan warung makan di lembang. Sampai pernah beberapa kali kena infeksi lambung akibat mungkin perut saya sendiri masih kaget menerima beragam benda-benda aneh. Doch!

Untung saya bukan tipe orang yang picky alias pemakan segala (tapi ga tahu juga ya, kalau ke Papua disuruh makan sate ulat sagu. Euh!) atau bahkan menerapkan diet ini-itu. Sampai sering suka kasihan melihat teman-teman saya yang diet garam, hanya makan telur rebus, ga bisa makan nasi atau bahkan bela-belain tidak makan sama sekali, padahal di depannya terpampang makanan enak demi menjaga bentuk tubuh.  Untung diberkahi badan yang ga gampang melar, paling mentok-mentoknya perut monyong, dan dalam waktu yang tidak lama pasti akan kembali lagi ke sedia kala karena bisa dibakar dengan sedikit rajin jalan kaki dan berkegiatan diluar rumah. Tapi memang semua ada batasnya. Jadi juga harus tahu diri dan menjaga diri, bukannya rakus. Kalau sudah kenyang ya stop. Tapi sepertinya faham ini sepertinya tidak diyakini oleh teman-teman dari kompi lemunisasi.

Tapi memang masakan Indonesia pun ga ada matinya. Karena jenis makanan yang sangat beragam, dari rasa, bentuk dan rupanya yang selalu bikin kangen. Sampai-sampai, bila sedang trip keluar negeri, sebut saja waktu ke Seoul. Ternyata saya tidak terlalu suka makanan Korea,  seperti kimchi yang bagi saya kok masih lebih enak acar timun dan cabai rawit. Atau Bibimbap yang ga karuan rasanya karena harus diaduk-aduk dengan nasi. Pernah diajak makan siang oleh para kolega dari kantor lama di Seoul, di sebuah foodcourt dengan suasana tradisional Korea, letaknya di bawah Korean Folk Museum. Disana saya disarankan untuk memesan Samgyetang, semacam sup ayam yang dicampur gingseng & semangkuk sup iga babi  dengan kuah bening yang bagi saya seperti sop iga di Indonesia. Dan semua rasanya hambar total. Walau sudah dicampur kecap asin dan cabe bubuk sebanyak-banyak pun. Haduh! Rasanya saat itu juga pengen banget ngunyah dendeng balado, rendang atau sekedar indomie rebus. Bahkan rasa KFC di bandara Incheon pun masih kalah jauh dengan KFC di Jakarta plus tidak ada saus sambal tentunya.

Lain cerita sewaktu diberi kesempatan untuk mengunjungi benua Eropa. Saya sudah siap mental tentunya, untuk makan roti seperti burger, sandwich dan teman-temannya setiap saat. Sebagai penggemar kentang goreng pun, saya tidak melewatkan untuk mencoba dengan semangat, Belgium Fritesyang tersohor itu dan lebih enak dicocol dengan saus yang mirip kuah semur kental (carbonade sauce). Dan tentu saja karena sedang di Brussels, tak terlewatkan waffel Belgia yang enak bila dimakan masih panas. Tiga hari di Paris pun, setiap pagi sampai siang makannya kalau tidak burger MacD (Meskipun di Perancis, tapi Mc Donald di sana justru tidak ada Frech Fries) atau beli sandwich di Subway karena harganya yang lumayan terjangkau dan banyak sayurnya. Bahkan dua malam diisi oleh sushi, karena sepupu saya, Aswin sedang sakaw oleh sushi (Nah loh! Di Paris tapi makannya sushi dan rasanya masih jauh lebih enak Sushi Tei Jakarta, kan, win?).

Tapi sebagai pemilik lambung yang hanya puas terhadap makanan berat sebut saja nasi, pastinya tidak akan puas (alias kenyang) jika di masukan roti saja. Untung saya tinggal dirumah tante yang pastinya masak nasi. Dan betapa girangnya sewaktu di resepsi perkawinan sepupu, tersedia juga masakan Indonesia seperti dendeng balado, rendang, sate ayam, dari sisi rasa masih lebih lumayan daripada makan makanan Eropa terus. Sampai akhirnya setiba di tanah air, dari bandara, saya requestuntuk langsung mengarah ke Bakmie Boy di Mayestik. Betapa bahagianya saya melahap semangkuk mie ayam pangsit dengan es teh tawar, meskipun dalam keadaan jet lag berat (ngantuk saja makannya lahap, gimana dalam keadaan sadar 100%? Hehehe). Dan dalam sebulan setelahnya makanan Indonesia yang saya cintai seperti nasi padang, sate padang, ketoprak, pecel lele, pempek, lancar sekali masuk ke perut. Memang kalau sedang berpergian melihat negeri orang, bisa menumbuhkan rasa nasionalis cinta tanah air seketika. Merdeka!

Jadi berbanggalah hidup dan tinggal di negeri yang sangat beragam budaya dan cita rasa kulinernya. Dan sekarang saatnya untuk kembali mengatur perjalanan lemunisasi episode dua (lirik bu komandan).

*lagikesambetpengennulis&belajarnulis*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s