200 tahun : sebuah catatan sejarah

Tepat pada hari ini, tanggal 8 Mei 2007,
Keuskupan Agung Jakarta merayakan perayaan 200 tahun berdirinya Gereja Katolik di Jakarta.



Selama 1 tahun terakhir ini , Gereja terus merayakan perayaan untuk menyambut ulang tahun ke 200 tahun ini.
Dan dalam 2 bulan terakhir, perayaan misa syukur 200 tahun ini dirayakan di berbagai distrik DKI Jakarta.
Untuk perayaan misa syukur puncak akan di laksanakan di istore senayan, Sabtu 26 Mei 2007 nanti.



Sejarah



Di Museum Nasional Jakarta disimpan sebuah batu besar yang awalnya ditanam di pantai Sunda Kelapa. Batu berpahatkan tanda salib bertahunkan 1522 ini adalah peringatan hubungan antara pelayaran Portugis dan kerajaan Pajajaran. Ini adalah tanda awal hadirnya Katolik di Jakarta kini.



Kemudian saat VOC berkuasa, 1619 hingga 1792, semua kegiatan Katolik dilarang, dan para imam Katolik juga dilarang untuk berkarya di wilayah kekuasaan VOC di Batavia, bahkan seorang Jesuit Egidius d’Abreu, S.J. dibunuh pada tahun 1624. Kegiatan Katolik hanya diijinkan di luar tembok Batavia bagi orang-orang keturunan Portugis dengan didirikannya Gereja Portugis di luar kota pada tahun 1696, kini menjadi Gereja Sion di Jl. P. Jayakarta. Keturunan Portugis ini juga diberi lahan bertani di daerah yang kini disebut daerah Tugu.



Pada abad ke-18 ini VOC membebaskan imam-imam Katolik untuk singgah di Batavia untuk melayani umat-umat, baik yang keturunan Portugis maupun juga pegawai VOC.



Pada tanggal 8 Mei 1807 pimpinan gereja Katolik di Roma mendapat persetujuan Raja Louis Napoleon untuk mendirikan Prefektur Apostolik Hindia Belanda di Batavia. Prefektur Apostolik adalah suatu wilayah Gereja Katolik yang bernaung langsung di bawah pimpinan Gereja Katolik di Roma, yang dipimpin bukan oleh seorang Uskup, melainkan oleh seorang Imam biasa yang ditunjuk oleh Paus, yang disebut Prefek Apostolik.



Pada tanggal 4 April 1808, dua orang Imam dari Negeri Belanda tiba di Jakarta, yaitu Pastor Jacobus Nelissen, Pr dan Pastor Lambertus Prisen, Pr.



Yang diangkat menjadi Prefek Apostolik pertama adalah Pastor J. Nelissen, Pr.



Setelah sekitar dua abad perayaan ekaristi dilarang di Hindia Belanda, pada tanggal 10 April 1808, untuk pertama kalinya diselenggarakan misa secara terbuka di Batavia di rumah Doktor F.C.H Assmuss, kepala Dinas Kesehatan waktu itu. Tuan dokter bersama dengan beberapa kawan berhasil mengumpulkan sejumlah orang dan sebagian besar adalah tentara.



Upacara Misa berlangsung sederhana dengan tempat yang kurang memadahi dan kebanyakan hadirin, sekalipun beragama Katolik, kurang memahami makna luhur perayaan ekaristi. Kedua Pastor tersebut untuk sementara tinggal di rumah Tuan Assmuss. Sebagai tuan rumah, Tuan Assmuss mulai memperkenalkan kedua Pastor itu dengan lingkungan di Batavia yang tentunya masih asing bagi mereka. Pada bulan Mei, kedua Pastor itu sempat pindah ke rumah bambu yang dipinjamkan pemerintah untuk digunakan sebagai pusat sementara kegiatan-kegiatan katolik. Letaknya di asrama tentara di pojok barat daya Buffelsveld atau Lapangan Banteng (sekarang kira-kira di antara jalan Perwira dan Jalan Pejambon, diatas tanah yang saat ini ditempati oleh Departemen Agama). Mulai 15 Mei 1808, perayaan Misa Kudus mulai diselenggarakan disini, sehingga rumah ini tidak saja menjadi pastoran tapi juga merupakan gereja darurat pertama untuk umat Katolik di Jakarta. Pada waktu itu juga telah dibentuk Badan Pengurus Gereja dan Dana Papa, yang terdiri atas Prefek Apostolik J. Nelissen sebagai ketua, dengan anggota-anggota Chevreux Le Grevisse, Fils, Bauer dan Liesart

Semakin lama tugas yang diemban terasa makin berat, karena suasana disekitarnya sangat menekan dan umat bersikap acuh tak acuh terhadap agama. Selama tahun 1808, mereka membaptis 14 orang, yaitu seorang dewasa keturunan Eropa Timur, delapan anak hasil hubungan gelap, diantaranya ada empat yang ibunya masih berstatus budak, dan hanya lima anak dari pasanga orang-orang tua yang sah status perkawinannya.



Pada waktu itu memang sulit untuk mengumpulkan domba-domba tak bergembala. Oleh karena itu, dirasa perlu adanya sebuah rumah ibadah yang dapat digunakan untuk mengumpulkan umat. Pada 2 Februari 1810, Pastor J. Nelissen, Pr mendapat sumbangan sebuah kapel dari Gubernur Jenderal Meester Herman Daendels, yaitu sebuah kapel sederhana yang terletak di pinggir jalan Kenanga, di daerah Senen, menuju Istana Weltevreden (sekarang RSPAD Gatot Subroto). Kapel ini dibangun oleh Cornelis Chasteleijn (+ 1714) dan sebelumnya dipakai oleh jemaat Protestan yang berbahasa Melayu dan pada hari biasa dipakai sebagai sekolah. Kapel ini merupakan milik Gubernemen yang dihadiahkan berikut semua isinya, termasuk 26 kursi dan sebuah organ yang sudah tidak dapat digunakan. Karena kondisi bangunan yang kurang layak, Pastor Nelissen segera mengerahkan sejumlah orang untuk merenovasi. Semua pekerjaan ini dipercayakan kepada pengusaha Tuan Tjung Sun dibawah pengawasan Tuan Jongkind, arsitek, atas nama Dewan Gereja. Kapel inilah yang menjadi Gereja Katolik I di Batavia. Dalam bulan yang sama, Gereja Katolik pertama di Batavia ini diberkati dan sebagai pelindungnya dipilih Santo Ludovikus. Gedung itu memang tidak bagus namun dirasa cukup kuat karena terbuat dari batu dan dapat menampung 200 umat. Di dekat gedung gereja itu dibangun sebuah Pastoran sederhana yang terbuat dari bambu.

Pada tanggal 27 Juli 1826, terjadi kebakaran di segitiga Senen. Pastoran turut lebur menjadi abu bersama dengan 180 rumah lainnya, sementara itu gedung gereja selamat namun gedungnya sudah rapuh juga dan tidak dapat digunakan lagi. Namun demikian, dalam ruangan yang suci itu, telah terjadi beberapa peristiwa yang membuatnya bernilai historis juga. Pada tanggal 10 Mei 1812 Sir Thomas Stamford Raffles, gubernur Pulau Jawa, beserta istrinya Olivia, hadir di Gereja Santo Ludovikus sebagai bapa-ibu serani bagi seorang bayi yang dipermandikan.



Pada tahun 1830 Gubernur Jendral Du Bus de Ghisignies menghibahkan tempat kediaman komandan tentara dan wakil gubernur jendral kepada Prefektur Apostolik Batavia. Di lahan inilah kini berdiri Gereja Katedral Jakarta.



Pada tahun 1856 suster-suster Ursulin mendirikan biara susteran pertama ‘Groot Kloster’ di Batavia di Jl Juanda dilanjutkan biara keduanya ‘Klein Klooster’ di Jl Pos pada tahun 1859 diikuti biara-biara Ursulin lain di daerah Jatinegara dan Kramat. Suster-suster dari Carolus Borromeus membuka Rumah Sakit Sint Carolus pada tahun 1919. Saat-saat awal tersebut imam-imam Jesuitlah yang menyelenggarakan karya pastoral di wilayah Batavia baru kemudian dibantu oleh imam-imam Fransiskan pada tahun 1929 dan imam-imam dari Misionaris Hati Kudus (MSC]] tahun 1932. Dalam bidang pendidikan, imam-imam Yesuit mendirikan Perkumpulan Strada tahun 1924. Sekolah pertamanya dibuka tahun itu juga di daerah Gunung Sahari. Pada tahun 1927 Perkumpulan Strada mendirikan sekolah menengah berasrama di Menteng yang kemudian menjadi Kolese Kanisius pada tahun 1932.



Pada masa pendudukan Jepang, Vikaris Apostolik Batavia saat itu Mgr. P. Willekens S.J. mengusahakan agar rumah sakit dan sekolah-sekolah Katolik untuk tetap beroperasi dan tetap melayani umat Katolik di masa sulit tersebut.



Setelah Indonesia merdeka, Gereja Katolik mulai berkembang kembali.



Jumlah umat semakin bertambah, demikian juga dengan jumlah paroki. Paroki Mangga Besar didirikan tahun 1946, paroki di Jl. Malang tahun 1948, paroki Tangerang tahun 1948. Bila pada 1950 baru ada 12 paroki, pada tahun 1960 sudah terdapat 16 paroki, pada tahun 1970 terdapat 23 paroki, pada tahun 1980 terdapat 34 paroki, pada tahun 1988 terdapat 39 paroki, pada tahun 1990 terdapat 40 paroki, dan pada 2002 sudah terdapat 53 paroki dengan 411.036 orang umat yang dilayani oleh 277 imam.



Selama 200 tahun itu dan satu Gereja sudah berkembang menjadi 37 Gereja atau Keuskupan, dengan jumlah umat katolik pada awal tahun 2005: 6.484.601, dengan pastor 4.174, Bruder 1.016 dan Suster 8.051. Wilayah KAJ sejak tahun 1948, – dengan berdirinya Keuskupan Bogor -, tinggal DKI Jakarta, Kabupaten Tangerang dan Bekasi. Jumlah umat katolik pada awal tahun 2005 ada 446.545, dengan pastor 320. Bruder 58 dan suster 539. Selama 200 tahun telah menjabat 13 pimpinan Keuskupan, dan saya yang ke 13 itu. Di wilayah DKI, kabupaten Bekasi dan Tangerang ini selama 200 tahun, dari satu paroki Katedral telah muncul 8 paroki baru pada generasi 2, y,i Paroki Kramat, Theresia, Mangga Besar, Kemakmuran, Matraman, Tanjung Priok, Kampung Sawah dan Tangerang. Selanjutnya sekarang telah menjadi 57 Paroki



Keuskupan Agung Jakarta adalah wilayah formal Gereja Katolik Roma yang tertua di Indonesia, dimulai dengan dengan status Prefektur Apostolik tahun 1807. Secara resmi prefektur apostolik ditingkatkan menjadi Vikariat Apostolik Batavia pada tanggal 3 April 1842 yang meliputi seluruh wilayah Hindia Belanda dengan Vikaris Apostolik pertamanya Mgr. I. Groff. Pada periode 1855 hingga 1948 wilayah Vikariat Apostolik Batavia semakin menyempit dengan didirikannya berbagai vikariat apostolik yang baru di luar Jawa dan di pulau Jawa sendiri. Seiring kemerdekaan Indonesia, pada 7 Februari 1950 nama Vikariat Apostolik Batavia diubah menjadi Vikariat Apostolik Djakarta. Status Vikariat Apostolik kemudian ditingkatkan menjadi Keuskupan Agung Djakarta pada tanggal 3 Januari 1961 dengan 2 keuskupan sufragan yaitu: Keuskupan Sufragan Bandung dan Keuskupan Sufragan Bogor. Sesuai dengan perubahan ejaan bahasa, nama Keuskupan Agung Djakarta diubah menjadi Keuskupan Agung Jakarta pada tanggal 22 Agustus 1973



Uskup



Uskup Jakarta:



· Jacobus Nelissen: 1808 – 1817



· Lambertus Prinsen: 18171830



· Johannes Scholten: 1831 – 1842



· Jacobus Grooff: 18421846



· Petrus Maria Vrancken: 1847 – 1874



· A.C. Claessens: 1874 – 1893



· Walterus Staal: 18931897



· Edmondo S. Luypen, S.J.: 20 Mei 18981923 (wafat)


· Antonio Pietro Francesco van Velsen, S.J.26 Januari 19241934 (mengundurkan diri) 


 Peter Willekens, S.J.: 23 Juli 19341952 (mengundurkan diri)



Uskup Agung Jakarta



· Adrianus Djajasepoetra, S.J.: 18 Februari 195321 Mei 1970 (mengundurkan diri)



· Leo Soekoto, S.J.: 21 Mei 197030 Desember 1995 (wafat)



· Julius Riyadi Darmaatmadja, S.J.: 11 Januari 1996 – sekarang





Paroki



Bekasi (St. Arnoldus) Bekasi Utara (St. Clara) Bidaracina (St. Antonius Padua) Bintaro (St. Matius Penginjil) Blok B – Kebayoran Baru (St. Yohanes Penginjil) Blok Q – Kebayoran Baru (St. Perawan Maria Ratu) Bojong Indah (St. Thomas Rasul) Cempaka Putih (St. Paskalis) Cengkareng (Trinitas) Cideng (St. Maria Bunda Perantara) Cijantung (St. Aloysius Gonzaga) Cilandak (St. Stefanus) Cilangkap (St. Yohanes Maria Vianney) Ciledug (St. Bernadet) Cililitan (St. Robertus Bellarminus) Cilincing (Salib Suci) Duren Sawit (St. Anna) Grogol (St. Kristoforus) Jagakarsa (Ratu Rosari) Jalan Malang (St. Ignatius) Jati Bening (St. Leo Agung) Kampung Duri (Damai Kristus) Kampung Sawah (St. Servatius) Kapuk (St. Philipus Rasul) Karawaci (St. Agustinus) Katedral (St. Maria Diangkat ke Surga) Kedoya (St. Andreas) Kelapa Gading (St. Yakobus) Kemakmuran (Bunda Hati Kudus) Kramat (Hati Kudus) Kranji (St. Mikael) Lubang Buaya (Kalvari) Mangga Besar (St. Petrus & Paulus) Matraman (St. Yoseph) Meruya (Maria Kusuma Karmel) Pademangan (St. Alfonsus Rodriguez) Pamulang (Rasul Barnabas) Pasar Minggu (Keluarga Kudus) Pejompongan (Kristus Raja) Pluit (Stella Maris) Pulo Gebang (St. Gabriel) Pulomas (St. Bonaventura) Pastoran Sementara Rawamangun (Keluarga Kudus) Serpong (St. Monika) Slipi (Kristus Salvator) Sunter (St. Lukas) Taman Galaxy (St. Bartholomeus) Tangerang (St. Maria) Tanjung Priok (St. Fransiskus Xaverius) Tebet (St. Fransiskus Asisi) Theresia (St. Theresia) Toasebio (St. Maria de Fatima) Tomang (Maria Bunda Karmel)



sumber : www.wikipedia.org, www.katedraljakarta.or.id , surat gembala pertengahan perayaan syukur 200th Gereja di Jakarta Mei 2006

8 thoughts on “200 tahun : sebuah catatan sejarah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s