Kebajoran Baroe


 


Asal-mula


 


Kebayoran Baru merupakan wilayah pemukiman baru yang dirancang setelah kemerdekaan Indonesia, seperti juga daerah Pejompongan. Wilayah ini dirancang oleh H Moh Soesilo pada tahun 1948. Peletakan batu pertama dilakukan pada 8 Maret 1949, dan selesai pada tahun 1955. Jalan Jendral Sudirman menghubungkan Kebayoran Baru dengan pusat kota melalui Dukuh Atas.


 


Pada awalnya, Kebayoran Baru dibagi menurut blok (Blok A sampai Blok S), sesuai dengan tipe peruntukan dan ukuran perumahan yang dibuat. Hingga saat ini, penyebutan dengan blok-blok masing sering terdengar dan lebih populer daripada penyebutan nama kelurahannya.


 


*Blok A, Blok O, dan Blok P sekarang menjadi wilayah Kelurahan Pulo.


*Blok B, Blok C, dan Blok D sekarang menjadi wilayah Kelurahan Kramat Pela.


*Blok M adalah sebuah kompleks pertokoan, yang bersama-sama dengan kawasan perumahan   menengah ke atas Blok N membentuk Kelurahan Melawai.


*Blok Q, sekarang menjadi bagian dari Kelurahan Petogogan.


*Blok R dan Blok S, terletak di sekitar lapangan Senayan, tepi Jalan Suryo, menjadi Kelurahan Rawa Barat.


 


(*btw busway, Blok E,F,G,H,I,K,L kok ga ada yach??or emang ada tapi di blah mana?? :p)


 


Kebayoran Baru, Riwayatmu Dulu


“Kesan pertama, apabila kita melawat dengan pesawat terbang dari Ibukota Indonesia ke arah Selatan-Baratdaja, maka nampak oleh kita suatu dataran indah Kotabaru Kebajoran dengan kelompokan pentju-pentju atap perumahan serta gedung-gedung jang teratur rapi dan lintasan djaring-djaring djalanan yang indah menghias. Kesemuanja ini bagaikan djauhar manikam berkilau mesra di tengah luas padang hidjau dari wilajah Djakarta Raja”.


Kalimat-kalimat itu adalah bagian “Pengantar Kata” buku Pembangunan Kotabaru Kebajoran. Buku yang diterbitkan Kementerian Pekerdjaan Umum dan Tenaga Republik Indonesia tahun 1953 itu bercerita tentang pembangunan sebuah kota baru ketika Jakarta pada tahun 1948 dihadapkan pada masalah mendesak: kekurangan perumahan.


Sebetulnya kekurangan perumahan itu—25.000 unit— sudah dirasakan Jakarta sejak 1940. Ia kian mendesak setelah sekitar 2.000 rumah lenyap akibat pembumihangusan kampung-kampung pada saat kedatangan balatentara Jepang.


Setelah Indonesia merdeka, dengan memperhitungkan pertumbuhan penduduk seusai perang, estimasi pada akhir 1940-an memperkirakan Jakarta pada 1952 akan dihuni sekitar 2,5 juta jiwa. Daerah di sekitar Weltervreden (Gambir) yang dibangun dalam dekade 1920-an sudah tak bisa lagi menampung kehadiran rumah baru dan berbagai aktivitas ekonomi. Saat ibu kota dipindahkan kembali ke Jakarta tahun 1948 pun dibutuhkan tambahan sekitar 1.000 unit rumah untuk pegawai negeri yang pindah dari Yogyakarta.


Ide untuk membangun kota baru itu mulai dibahas di Centrale Huisvestingsraad (Dewan Perumahan Pusat) pada 19 Juli 1948. Lokasi yang dipilih haruslah di luar Jakarta, namun tidak terlalu jauh dari pusat kota.


Pilihan jatuh pada dataran luas dan indah di sebelah selatan Jakarta, sebelah timur desa Kebajoran. Daerah ini masih lengang. Jadi, untuk membangun kota baru tidak banyak penduduk yang “dikorbankan”. Infrastruktur pun menunjang. Pengangkutan bahan bangunan dapat dilakukan dengan kereta api yang melintas di sana. Dari segala segi, dataran ini memenuhi syarat. Centrale Huisvestingsraad pun memberikan persetujuan pada 21 September 1948.


Lahan pertanian seluas 730 hektar yang antara lain meliputi desa Grogol Udik, Pela Petogogan, dan Gandaria Utara itu dibeli Rp 15 juta dan menjadi milik negara sejak 17 Januari 1949. Rencana pembangunan dan rancangan kota disusun oleh praktijk ingenieur H Moh Soesilo (meninggal pada 29 September 1994 dalam usia 94 tahun) dari Centrale Planologisch Bureau. Karena pada masa itu “juru ukur” tanah sangat langka, rencana proyek disusun berdasarkan foto hasil pemotretan udara dengan skala 1:1250. Awal pembangunan ditandai dengan peletakan batu pertama pada 8 Maret 1949. Enam tahun kemudian, 1955, pembangunan itu selesai.


Dalam rencana, kota baru ini bernama Kota Satelit Kebayoran. Sejatinya istilah “kota satelit” tidaklah tepat karena kota satelit paling tidak berjarak sekitar 15 kilometer dari kota induk, sedangkan Kebayoran “hanya” 8 kilometer dari pusat Jakarta. Tetapi, apa pun sebutan itu, Moh Soesilo, sang perancang, membangun Kebayoran Baru dengan konsep kota taman.


Konsep kota taman dicetuskan oleh Ebenezer Howard dalam bukunya, The City of Tomorrow (1902). Pada dasarnya kota taman berpegang pada tiga prinsip: lahan dikuasai atau dikendalikan oleh pemerintah; unsur-unsur kota didesain dengan cermat dan lengkap; memiliki jalur hijau yang mengelilingi kota secara permanen dan antara lain berfungsi membatasi pertumbuhan fisik kota.


Kota taman tropis


Areal Kebayoran terbagi untuk perumahan rakyat (85 hektar), perumahan sedang (115 hektar), vila dan flat (105 hektar), toko-toko besar dan kecil (18 hektar), industri kecil (10,2 hektar), jalan (181,5 hektar), lahan untuk olahraga (9,6 hektar), taman (52,7 hektar), makam, sawah, dan lain-lain (54 hektar).


Sebagai kota taman tropis, kawasan ini memiliki konsistensi hierarki jalan dan peruntukan lahan yang jelas. Luas ruang terbuka hijau (RTH) sekitar 40 persen dari luas kota. Sistem RTH itu terstruktur dengan fungsinya masing-masing, yakni taman/kebun rumah, taman lingkungan, taman kota, lapangan olahraga, dan taman makam. Juga ada daerah tangkapan air seperti situ atau danau. Jalur untuk pedestrian dirancang demi kenyamanan. Begitu juga kawasan pengolahan limbah dan tempat pengolahan sampah.


Pada awalnya Kebayoran Baru tumbuh dengan tata kota modern. Kelompok unit huniannya disebut “blok”: Blok A sampai Blok S. Setiap blok unit hunian dibatasi oleh jalan primer dan sekunder. Masing-masing blok memiliki karakter sendiri. Penamaan jalan pun terkelompok mengikuti toponomi seperti nama kerajaan, raja, gunung, dan sungai.


Di kawasan yang dimaksudkan sebagai hunian berwawasan lingkungan ini rumah-rumah besar yang berada di tepi suatu blok, di pinggir jalan besar, berintegrasi dengan rumah-rumah kecil yang mengelilingi taman. Seluruh kawasan “dipagari” dengan jalan melingkar yang jadi pembatas antara Kebayoran Baru dan daerah di luarnya.


Jalan yang melingkari Kebayoran Baru dimulai dari Jalan Senopati, Suryo, Wijaya, Prapanca, sampai Blok A. Dari Blok A ia tersambung dengan Jalan Gandaria, Paku Buwono, Hang Tuah, dan bertemu kembali dengan ujung Jalan Senopati dan Jalan Sudirman di Bunderan Senayan. Jalur utamanya membelah dari utara ke selatan (Jalan Sisingamangaraja, Panglima Polim, dan Iskandarsyah) dan membujur dari timur ke barat (Jalan Wolter Monginsidi, Trunojoyo, dan Kyai Maja).


Sebelum Jalan Jenderal Sudirman dibangun pada awal 1960-an, Kebayoran Baru bagaikan terpisah dari Jakarta. Hanya ada dua jalan untuk mencapainya, melalui Kebayoran Lama, lewat ujung Jalan Kyai Maja, dan lewat Manggarai, masuk ke Jalan Wolter Monginsidi yang kala itu sangat becek.


Angkutan penghubung (feeder) dengan pusat transportasi kota Jakarta, Lapangan Banteng, adalah bus seukuran metromini yang oleh warga Jakarta saat itu disebut Robur, sesuai dengan merek bus yang diimpor dari Uni Soviet itu. Juga ada Icarus, bus putih yang lebih besar dari metromini, namun lebih kecil dari bus kota sekarang. Kini segala macam kendaraan bermotor leluasa masuk dari segala penjuru. Wajah Kebayoran Baru sekarang pun jauh mengingkari yang direncanakan planolog Moh Soesilo lebih dari setengah abad lalu.


 


resources : http://id.wikipedia.org & http://kompas.com


 


(“bahas ttg urban begini, jadi teringat masa kuliah dulu ttg garden city, dll..” –> bluuuurr…. kayak kalo di pilem2 terbayang kembali ke masa lalu) :p


 

About these ads

9 thoughts on “Kebajoran Baroe

  1. zaman dulu terminal bis sentral jakarta di lapangan banteng. bis dari sini menuju terminal blok m dilayani oleh ppd dengan banyak rute. berikut ini urutan selengkapnya:

    10 via harmoni, sudirman, velbak (mirip dengan rute patas 42)
    11
    12 via sudirman, senopati
    13
    14 via imam bonjol, sudirman, sisingamangaradja (bis tingkat)
    15 via sabang, sudirman
    101 via kuningan
    110

    bis kota dari terminal blok m sendiri ditandai dengan angka 1
    misalnya 16 blok m-grogol, 108 blok m-pasar minggu, 107 blok m-kampung melayu, 106 blok m-pondok labu, 105 blok m-manggarai, 102 blok m-ciputat

  2. Bismanian tough :
    Ikarus nya dulu Ikarus versi berapa yaaa ?
    FYI Taun 90an akhir di Jakarta juga sempet tu Ikarus nongol lagi sbg Biskota, seri 247 BBGas, trayeknya B1 Blok M – Kota dan B2 Senen – Dipenogoro – Grogol, atas “jasane” Mba Tutut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s